Kamis, 19 Februari 2015

Kisah Nabi Yaqub a.s




Nama aslinya adalah Israil, beliau adalah anak dari Nabi Ishaq a.s dan cucu dari Nabi Ibrahim a.s. beliau adalah putera yang kedua dari Nabi Ishaq, beliau memiliki saudara kembar yang bernama Ishu. Walaupun saudara kembar akan tetapi hubungan mereka tidak harmonis, malah mereka saling bermusuhan satu sama lain, hal ini disebabkan karena rasa dengki dan iri hati dari Ishu kepada Nabi Yaqub. Ishu selalu ingin mengalahkan Yaqub, rasa dengki dan iri hati Ishu semakin menjadi saat Nabi Ishaq mendoakan Yaqub agar dimudahkan rezekinya dan agar mendapatkan anak-anak yang diberkahi.
Ketidakharmonisan hubungan antara kedua saudara kembar tersebut membuat Yaqub merasa terganggu, kemudian Yaqub mengadu kepada ayahnya agar Nabi Ishak menengahi dan mendamaikan keduanya. Agar Yaqub terbebas dari ancaman-ancaman saudara kembarnya Ishu.
Ishu selalu memberikan ancaman kepada Yaqub, bahkan Ishu mengancam jika anak-anaknya kelak akan menjadi pesaing bagi anak-anak Yaqub dalam mencari penghidupan di dunia. Sedangkan Nabi Ishaq telah merasa tidak mampu berbuat banyak karena beliau merasa sudah tua. Maka Nabi Ishak menyarankan kepada  Yaqub agar berhijrah ke tempat saudaranya di Fadan A’raam. Dan meminta kepada saudaranya agar berkenan menikahkan puterinya kepada Nabi Yaqub. Agar kedudukan Nabi Yaqub di mata masyarakat menjadi baik karena mertuanya.
Berdasarkan saran dari ayahnya tersebut berangkatlah Nabi Yaqub ke Fadan A’raam di daerah Irak. Nabi Yaqub harus melalui gurun pasir Sahara yang panas terik mataharinya membakar kulit. Di tengah perjalanan karena saking lelahnya Nabi Yaqub tertidur, dan di dalam tidurnya Nabi Yaqub bermimpi jika beliau mendapatkan penghidupan yang makmur mempunyai kerajaan yang besar dan anak cucu yang soleh. Saat terbangun Nabi yaqub teringat dengan doa ayahnya dan mengira bahwa mimpinya itu akan menjadi kenyataan. Karena mimpi tersebut membuat Nabi Yaqub semakin semangat dalam melakukan perjalanan.
Legalah hati Nabi Yaqub karena setelah menempuh perjalanan berhari-hari melewati padang pasir akhirnya Nabi Yaqub sampailah di pintu gerbang Kota Fadan A’raam. Kemudian Nabi Yaqub memasuki kota tersebut, sesampainya di sebuah persimpangan jalan beliau bertanya kepada seseorang dimana letak rumah saudaranya Laban berada. Dikarenakan Laban adalah orang yang sangat terkenal di negeri itu maka hampir setiap orang mengenalnya. Laban adalah salah seorang yang mempunyai lading peternakan terbesar di kota itu. Maka seketika orang yang ditanya Nabi Yaqub tersebut segera menunjuk kepada seorang gadis yang sedang mengembalakan kambing. Penduduk tersebut berkata jika gadis tersebut bernama Rahil, dia adalah salah seorang puteri dari Laban.
Dengan hati berdebar Nabi Yaqub menemui gadis tersebut, kemudian beliau menjelaskan perihal status maksud kedatangannya. Bahwa Nabi Yaqub ingin bertemu Laban guna menyampaikan pesan Nabi Ishaq saudaranya. Dengan senang hati Rahil menantar Nabi Yaqub menemui ayahnya Laban.
Akhirnya pertemuan yang mengharukan itu terjadi, Nabi Yaqub dan Laban saling berpelukan dan tanpa terasa terteteslah air mata mengalir di pipi masing-masing akibat pertemuan yang tidak disangka-sangka tersebut. Laban telah menganggap Nabi Yaqub seperti anaknya sendiri, Laban membuatkan bilik tersendiri juga seperti anak-anaknya yang lainnya dan Nabi Yaqub juga diberikan kebebasan dan hak yang sama seperti anak-anak Laban yang lain.
Setelah selang beberapa hari Nabi Yaqub menceritakan kepada Laban perihal kedatangannya. Yaitu pesan Nabi Ishaq bahwa Nabi Yaqub harus menikah dengan puteri Laban, kemudian Laban menyetujuinya. Akan tetapi Laban mengajukan syarat kepada Nabi Yaqub, syaratnya adalah Nabi Yaqub harus mengembalakan kambing Laban selama 7 tahun. Nabi Yaqub menyetujui syarat tersebut, dan mulailah Nabi Yaqub menjadi pekerja di perusahaan peternakan Laban.
Setelah tujuh tahun berlalu akhirnya Nabi Yaqub menikahi puteri Laban, pada dasarnya Nabi Yaqub ingin menikahi puteri Laban yang bernama Rahil. Akan tetapi hukum adat yang tidak memperbolehkan seorang adik perempuan menikah mendahului kakak perempuannya membuat Nabi Yaqub harus menikahi Laiya kakak Rahil. Akan tetapi Laban mengerti akan keinginan hati Nabi Yaqub yang lebih mencintai Rahil, dan Laban pun tak ingin menyakiti hati keponakannya tersebut. Maka Laban membuat lagi perjanjian dengan Nabi Yaqub bahwa Nabi Yaqub harus mengembalakan lagi ternaknya tujuh tahun lagi untuk bisa mempersunting Rahil. Akhirnya persyaratan itu disetujui kembali oleh Nabi Yaqub, maka setelah tujuh tahun lagi berlalu Nabi Yaqub mempersunting Rahil adik Laiya istrinya yang kedua.
Begitulah kisah Nabi Yaqub yang kemudian menjadi keluarga terpandang dikarenakan kedudukan mertuanya di kalangan masyarakat. Dari kedua istrinya tersebut Nabi Yaqub dikaruniai 12 anak diantaranya adalah Nabi Yusuf dan Benyamin dari istrinya Rahil, dan yang lain dari istrinya Laiya.

Rabu, 18 Februari 2015

Kisah Nabi Ishaq a.s




Nabi Ishaq adalah putera dari Nabi Ibrahim dari istrinya yang pertama dimana kelahirannya diberitakan oleh malaikat. Nabi Ishaq lahir beberapa tahun setelah kelahiran Nabi Ismail saudaranya, kebenaran kenabian Nabi Ishaq dijelaskan dalam Alquran Surah An-nisa ayat 163. Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi yang datang kemudian. Dan Kami telah memberikan wahyu (pula) kepada Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya'kub, dan anak cucunya, Isa, Ayyub, Yunus, Harun dan Sulaiman. Dan Kami berikan Zabur kepada Daud. (An Nisa': 163)”
Secara bahasa Ishaq berarti tertawa, hal ini dapat dijelaskan karena Ibunda Nabi Ishaq tertawa saat mendengar kabar jika beliau akan melahirkan. Karena beiau merasa sudah terlalu tua dan suaminya juga dalam keadaan yang sama. Akan tetapi malaikat menjelaskan bahwa Allah memberikan karunia-Nya kepada siapa saja yang dikehendaki.
Dalam Alquran tidak dijelaskan kepada siapa Nabi Ishaq berdakwah menyebarkan agama Allah. Akan tetapi Alquran menjelaskan tentang sifat-sifat Nabi Yaqub yang tidak jauh berbeda dengan Nabi Ibrahim. Dan ingatlah hamba-hamba Kami: Ibrahim, Ishaq dan Ya'qub yang mempunyai perbuatan-perbuatan yang besar dan ilmu-ilmu yang tinggi. Sesungguhnya Kami telah mensucikan mereka dengan (menganugerahkan kepada mereka) akhlak yang tinggi yaitu selalu mengingatkan (manusia) kepada negeri akhirat. Dan sesungguhnya mereka pada sisi Kami benar-benar termasuk orang-orang pilihan yang paling baik. (QS. Shaad, ayat 45-47)
Begitulah sedikit kisah Nabi Ishaq yang memang tidak banyak dijelaskan dalam Al-qur’an. Menurut riwayat Nabi Ishak meninggal pada usia 170 tahun. Beliau mewarisi keturunan yang masih termasuk Nabi yaitu Nabi Yaqub as.

Kisah Nabi Luth as




Nabi Luth adalah keponakan Nabi Ibrahim, ayah beliau bernama Hasan bin Tareh, beliau adalah satu-satunya lelaki yang beriman kepada Nabi Ibrahim, beliau mengikuti semua perjalanan dan dakwah bersama Nabi Ibrahim. Beliau dan Nabi Ibrahim telah bersama-sama berhasil mengembangkan bidang peternakan. Jumlah ternak Nabi Ibrahim dan Nabi Luth terlalu banyak sehingga tak ada tempat untuk menampung ternak-ternak itu. Oleh karena itu Nabi Ibrahim menyuruh Nabi Luth untuk berhijrah ke negeri Sodum untuk mencari tempat yang lebih luas guna mengembangkan ternak-ternaknya.
Dan di negeri Sadum inilah Nabi Luth di utus juga untuk berdakwah kepada masyarakatnya, masyarakat Sadum terkenal dengan moralnya yang bobrok. Mencuri, berbohong, merampok, berkelahi, dan perbuatan-perbuatan keji lainnya adalah keseharian yang tak pernah lepas dari penduduk Sadum. Yang kuat menindas yang lemah, kejahatan merajalela, dan yang paling parah yang dikerjakan penduduk Sadum adalah perbuatan homosex dan lesbian di masyarakatnya. Jika ada orang yang memasuki negeri ini pastilah akan mendapat gangguan dari penduduknya, hartanya akan dirampas, jika melakukan perlawanan maka penduduk Sadum tidak akan segan-segan membunuh. Tapi jika yang datang adalah seorang lelaki yang berparas tampan maka akan menjadi mangsa bagi kaum lelaki penduduk Sadum, jika yang datang adalah perempuan maka akan menjadi mangsa bagi kaum perempuannya.
Di tengah negeri inilah Nabi Luth diutus guna memperbaiki akhlak yang telah bobrok ini. Memberi kabar gembira bagi orang-orang yang beriman dan mengabarkan kepada orang-orang yang berbuat zalim bahwa akan ada balasan pada setiap apa yang dilakukan.
"Kaum Luth telah mendustakan rasul-rasul. Ketika saudara mereka Luth, berkata kepada mereka: Mengapa kamu tidak bertakwa? Sesungguhnya aku adalah seorang rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu, maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semeta alam. Mengapa kamu mendatangi jenis lelaki di antara manusia, dan kamu tinggalkan isteri-isteri yang dijadikan oleh Tuhanmu untukmu, bahkan kamu adalah orang-orang yang melampaui batas". (QS. asy-Syu'ara: 160-166)

Akan tetapi ajakan Nabi Luth yang penuh kebenaran dan kasih sayang ini malah didustakan oleh kaumnya.
Mereka menjawab: "Hai Luth, sesungguhnya jika kamu tidak berhenti, benar-benar kamu termasuk orang-orang yang diusir" (QS. asy-Syu'ara: 167)
Suatu hari Nabi Luth kedatangan tamu, tamu ini berjumlah 3 orang dimana mereka adalah malaikat-malaikat yang menyamar menjadi lelaki yang tampan parasnya. Saat pertama kali melihat ketiga tamunya Nabi Luth merasa khawatir akan keselamatan ketiga tamunya tersebut. Karena mengingat kebiasaan kaumnya yang suka melakukan perbuatan homosek. Oleh karena itu Nabi Luth memberi tahu tamunya tentang kebiasaan buruk penduduk Sadum. Akan tetapi tamunya hanya terdiam membisu. Melihat tekad tamunya yang tetap ingin bermalam di rumahnya membuat Nabi Luth tak bsia berbuat banyak, karena beliau merupakan orang yang amat menghormati tamu. Dari pintu kota Nabi Luth mengantar tamu-tamunya menuju ke rumahnya. Di perjalanan Nabi Luth senantiasa mengingatkan tamunya agar mengurungkan niatnya untuk bermalam di negerinya. Akan tetapi tamunya masih tetap diam membisu. Nabi Luth berjalan pada saat petang karena dia takut diketahui oleh kaumnya. Tidak ada yang mengetahui kedatangan tamu-tamu Nabi Luth kecuali istri nabi Luth, kemudian istri Nabi Luth memberi tahu penduduk Sadum.
Mendengar berita bahwa Nabi Luth telah didatangi tamu-tamu yang berparas tampan membuat penduduk Sadum menginginkannya. Mereka berbondong-bondong mendatangi rumah Nabi Luth, kemudian Nabi Luth keluar dan berdialog dengan mereka. “Hai kaumku, inilah puteri-puteriku, mereka lebih suci bagimu, maka bertakwalah kepada Allah dan janganlah kamu mencemarkan (nama)ku terhadap tamuku ini. Tidak adakah di antaramu seorang yang berakal?” Akan tetapi kaum Nabi Luth melakukan  penolakan atas kebenaran yang didakwahkan Nabi Luth. Mereka memang sudah dibutakan oleh nafsu dan disesatkan fikiran mereka oleh setan.  Sehingga mereka tak lagi memperdulikan bahwa Luth adalah seorang Nabi yang diutus oleh Allah. Dengan kesesatannya mereka menjawab: "Sesungguhnya kamu telah tahu bahwa kami tidak mempunyai keinginan terhadap puteri-puterimu; dan sesungguhnya kamu tentu mengetahui apa yang sebenarnya kami kehendaki".
Kemudian Nabi Luth memasuki rumah dan mengunci rumahnya, sementara kaum Nabi Luth yang tidak sabar selalu menggebrak-gebrak dan mendorong-dorong pintu rumah Nabi Luth. Nabi Luth berkata, “Seandainya aku ada mempunyai kekuatan (untuk menolakmu) atau kalau aku dapat berlindung kepada keluarga yang kuat (tentu aku lakukan)". Akan tetapi ketiga tamu Nabi Luth masih merasa tenang, melihat demikian Nabi Luth merasa heran. Para tamu itu berkata, “Hai Luth, sesungguhnya kami adalah utusan-utusan Tuhanmu, sekali-kali mereka tidak akan dapat mengganggu kamu, sebab itu pergilah dengan membawa keluarga dan pengikut-pengikut kamu di akhir malam dan janganlah ada seorangpun di antara kamu yang tertinggal, kecuali isterimu. Sesungguhnya dia akan ditimpa azab yang menimpa mereka karena sesungguhnya saat jatuhnya azab kepada mereka ialah di waktu subuh; bukankah subuh itu sudah dekat?". Maka dari itu Nabi Luth segera meninggalkan negerinya, beliau pergi melalui pintu belakang.
Ketika pintu rumah Nabi Luth terbuka para utusan itu segera membuat mata penduduk Sadum menjadi buta. "Dan sesungguhnya mereka telah membujuknya (agar menyerahkan) tamunya (kepada mereka), lalu kami butakan mata mereka, maka rasakanlah azab-Ku dan ancaman-ancaman-Ku. Dan sesungguhnya pada esok harinya mereka ditimpa azab yang kekal." (QS. al-Qamar: 37-38)


Sebelum akhir malam Nabi Luth, keluarganya, dan pengikutnya telah meninggalkan negeri Sadum, akan tetapi suara dari azab tersebut masih terdengar. Beliau mendengar suara yang mengguntur dan bergemuruh seakan meledakkan gunung-gunung dan menghancurkan apa saja yang ada. Benar saja Allah telah mengazab Negeri Sadum dengan sangat dahsyat, mereka dihujani batu yang terbakar dari langit secara bertubi-tubi. Dan negeri Sadum dibalikkan sehingga tiada yang tersisa diantara penduduk  Sadum yang kafir tersebut. Termasuk isteri Nabi Luth, dia termasuk yang tertinggal karena dia telah kafir dan mendustakan Allah dan Nabi Luth. Hancurlah sebuah peradaban yang tersisa adalah puing-puing kehancurannya, di sebuah danau di Palestina kita dapat melihat sisa-sisa kebenaran cerita ini. Dimana di dalam danau tersebut akan ada batu-batu yang seakan-akan meleleh, dan danau tersebut mengalirkan air yang asin lebih asin dari air laut, danau tersebut bernama al-Bahrul Mayit.
Akhirnya Nabi Luth menemui Nabi Ibrahim, beliau bercerita tentang apa yang terjadi pada kaumnya.  Akan tetapi Nabi Ibrahim telah mengetahui karena sebelumnya telah diberitakan oleh malaikat Allah.
Itulah kisah Nabi Luth yang amat terkenal yang bisa kita jadikan pelajaran. Bahwasanya semua bentuk kemaksiatan pasti akan mendapatkan balasan dari Allah SWT. Kaum Nabi Luth telah melakukan kemaksiatan, kemudian mereka didatangkan seorang Rasul, dan merekapun mendustakannya. Maka azab Allah didatangkan kepada mereka, dan merekapun mati bergelimpangan.
"Lalu Kami keluarkan orang-orang yang beriman yang berada di negeri kaum Luth itu. Dan Kami tidak mendapati di negeri itu, kecuali sebuah rumah dari orang-orang yang berserah diri. Dan Kami tinggalkan pada negeri itu suatu tanda bagi orang-orang yang takut kepada seksa yang pedih. " (QS. adz-Dzariyat: 35-37)

"Dan sesungguhnya kota itu benar-benar terletak di jalan yang masih tetap (dilalui manusia)." (QS. al-Hijr: 76)

"Dan sesungguhnya kamu (hai penduduk Mekah) benar-benar akan melalui (bekas-bekas) mereka di waktu pagi, dan di waktu malam. Maka apakah kamu tidak memikirkannya." (QS. ash-Shaffat: 137-138)




Senin, 09 Februari 2015

Kisah Nabi Ismail as




Sebagaimana kita ketahui Nabi Ismail as adalah putera Nabi Ibrahim as yang pertama, Nabi Ismail adalah seorang yang penyabar. Beliau selalu melaksanakan apa yang diperintahkan oleh Nabi Ibrahim dan Allah SWT tanpa ragu. Telah dijelaskan sebelumnya beberapa kisah Nabi Ismail bersama Nabi Ibrahim, seperti tentang munculnya sumur zam-zam setelah Nabi Ismail menghentak-hentakkan kakinya ke tanah. Juga tentang keteguhan dan kesabaran Nabi Ismail saat beliau hendak disembelih oleh Nabi Ibrahim karena hendak melewati ujian dari Allah SWT.
Nabi Ismail tinggal di semenanjung Arab sesuai dengan yang diperintahkan oleh Allah SWT. Beliau memelihara kuda dan merasa terhibur dengannya, beliau memanfaatkan kuda-kuda tersebut untuk melakukan keperluannya. Semakin lama kabilah yang tinggal di sekitar sumur zam-zam bertambah, walaupun begitu kabilah-kabilah tersebut tetap meminta izin kepada Nabi Ismail dan Siti Hajar jika hendak mengambil air zam-zam. Setelah dewasa Nabi Ismail berdakwah untuk Al-Amaliq, bani Jurhum dan Qabilah Yaman. 
Hari-hari berganti begitu cepat dan Nabi Ismailpun telah menginjak usia dewasa, di usia ini Nabi Ismail diberi lagi tugas yang besar dari Nabi Ibrahim. Dimana tugas ini adalah perintah dari Allah SWT, perintah ini lebih berat dari pada perintah penyembelihan, karena perintah ini tidak hanya menyangkut hal pribadi, melainkan sampai kepada kepentingan orang banyak. yaitu agar dibangun lagi Baitullah. Nabi Ismail menjawab dengan gamblang dan tegas yang menunjukkan kepatuhannya kepada Nabi Ibrahim dan Allah, "Laksanakanlah apa yang diperintahkan Tuhanmu padamu." Nabi Ibrahim berkata: "Apakah engkau akan membantuku?" Ismail menjawab: "Ya, aku akan membantumu." Nabi Ibrahim berkata: "Sesungguhnya Allah s.w.t memerintahkan aku untuk membangun rumah di sini." Nabi Ibrahim mengisyaratkan dengan tangannya menunjuk ke suatu bukit.
Baitullah adalah sebuah bangunan yang pertama kali dibuat untuk menyembah Allah SWT. Yang pertama kali membuat adalah Nabi Adam, sebagaimana dijelaskan oleh para ulama, ” Sesungguhnya Nabi Adam membangunnya dan ia melakukan tawaf di sekelilingnya seperti para malaikat yang tawaf di sekitar Arasy Allah s.w.t. “ dahulu Nabi Adam membangunnya untuk keperluan beribadah kepada Allah. Dan itu adalah rumah yang pertama kali digunakan untuk menyembah Allah. Rumah itu dipenuhi rahmat Allah SWT, kemudian Nabi Adam meninggal dan tidak ada lagi yang mengurusi dan menggunakan rumah tersebut sampai berabad-abad membuat rumah tersebut hilang dan tersembunyi.
Melalui wahyu dari Allah SWT Nabi Ibrahim diperintahkan untuk membangun kembali baitullah, agar rumah tersebut tetap berdiri dan digunakan untuk beribadah sampai hari kiamat.  Mula-mula Nabi Ibrahim membangun ka’bah, ka’bah adalah bangunan batu yang merupakan simbol tauhid agama Islam. Dimana setiap muslim dimanapun berada harus menghadap ka’bah dalam shalatnya.
Beliau menikah dengan wanita jurhum, dimana istrinya yang pertama ini diceraikan atas perintah Nabi Ibrahim. Pada suatu hari Nabi Ibrahim berkunjung ke rumah Nabi Ismail untuk mengetahui bagaimana keadaan Nabi Ismail. Saat sampai di rumah Nabi Ismail Nabi Ibrahim hanya bertemu dengan istrinya. Saat itu istri Nabi Ismail tidak mengetahui jika yang datang itu adalah mertuanya. Nabi Ibrahim menanyakan dimana Nabi Ismail, istri Nabi Ismail menjawab bahwa Nabi Ismail sedang berburu. Lalu beliau menanyakan tentang keadaan rumah tangganya, kemudian sang istri menjawab jika rumah tangganya penuh dengan kesempitan. Lalu Nabi Ibrahim menanyakan apakah ada jamuan, kemudian Istri Nabi Ismail menjawab tidak mempunyai malah tidak ada apapun. Nabi Ibrahim tidak senang dengan sifat istri Nabi Ismail, maka dari itu Nabi Ibrahim menyuruh Nabi Ismail untuk menceraian istrinya. Sebelum pulang Nabi Ibrahim menitip pesan kepada istri Nabi Ismail untuk mengganti ambang pintu.
Kemudian Nabi Ismail telah pulang dari berburu, kemudian istrinya bercerita tentang seorang laki-laki yang bertamu ke rumahnya tersebut dan menyampaikan pesan dari lelaki tersebut. Kemudian Nabi Ismail mengatakan kepada istrinya, sesungguhnya lelaki itu adalah ayahku, dan dia menyuruhu untuk menceraikanmu, maka kembalilah engkau kepada keluargamu. Kemudian mereka bercerai,setelah bercerai Nabi Ismail menikah kembali dengan wanita suku Jurhum juga. Dengan istrinya yang kedua ini Nabi Ismail hidup dengan bahagia. Suatu hari Nabi Ibrahim mengunjungi Nabi Ismail lagi dan akan tetapi Nabi Ismail sedang tidak ada di rumah, yang ada hanyalah istrinya. Nabi Ibrahim menanyakan tentang keadaannya bersama Nabi Ismail, lalu dia menjawab bahwa dia baik-baik saja dan dikaruniai nikmat. Nabi Ibrahim ridha dengan istri Nabi Ismail yang kedua ini karena menghormati tamu dan tidak menceritakan aib dan keburukan suaminya. Sebelum pergi Nabi Ibrahim berpesan agar jangan mengganti ambang pintunya. Maka tatkala Nabi Ismail pulang istrinya berkata kepadanya bahwa tadi ada seorang lelaki tua yang datang dan bertanya tentang keadaan rumah tangga kita lalu aku menjawab jika rumah tangga kita penuh dengan nikmat dan keberkahan. Nabi Ismail bertanya, apakah dia berpesan sesuatu. Istrinya menjawab, iya, dia berpesan agar mengokohkan ambang pintunya. Nabi Ismail berkata, ia adalah ayahku dan ambang pintu itu adalah dirimu, dia berpesan agar mempertahankanmu. Dengan istri yang kedua ini Nabi Ismail dikaruniai 12 anak laki-laki dan 1 anak perempuan.